Dua minggu pun berlalu, Ray sedang sibuk dengan pekerjaannya dan Ray masih penasaran dengan Gadis itu yang Ray antarkan pulang. Tentu, perasaan akan penasaraan terhadap Gadis itu mengganggu di saat dia melakukan pekerjaannya. Ray sering melamun memikirkan Dia. Entah Dia kemana, tiada kabar, bagaikan angin yang berhembus. Setelah Ray pulang kerja, Ray check handphonenya dan melihat nomor panggilan tanpa nama. Dan Ray rasa ini adalah nomor panggilan Gadis itu. Ray pun berpikir harus menghubunginya atau tidak, ini semua karena Ray penasaran tentang si Gadis itu.
Dan akhirnya Ray pun memberanikan diri untuk menghubunginya.
*tekan nomor panggilan Gadis itu* " Tuuut.... Tuut..... ". Ray menunggu.
Gadis itu pun mengangkat. " Hallo? "
" .......... ". Ray terdiam seraya mengingat suara Gadis itu.
" Hallo? Ini siapa? Hallo? ".
" Uh, hai. Ini benar Putih Azizah? ".
" Iya ini saya. Maaf, ini siapa ya? ".
" Ini... Ray. Ray Manewa. Masih ingat? ".
" Oh, kamu.. Iya saya ingat. Ada apa ya? ".
" Can.. Can we hang out sometime? ". Tanya Ray dengan gugup.
" Hang out? Okay. Kapan? Saya juga lagi tidak ada acara apa-apa. ".
" Bagaimana kalau besok? Apakah kamu bisa? ".
" Bisa bisa. Come to my house at 10 a.m. Okay? Masih ingat kan? ".
" Okay, masih masih. ".
" Baiklah kalau gitu. Selamat malam! Hihi. ". Jawab Putih dengan tertawa kecil.
*menutup panggilan*
Ray pun tidak percaya bahwa, Ray benar-benar akan pergi dengan Gadis itu besok. Ray pun bingung apa yang Ray harus lakukan besok, kemana kita berdua harus pergi. Sudah lama Ray tidak pergi jalan dengan perempuan. Hal ini membuatnya bingung dan sekaligus membuat Ray senang. Ray tidak sabar untuk bertemunya besok. Akhirnya Ray pun tidur.
Keesokkan harinya, Ray pun bersiap-siap untuk pergi bersama Putih. Semuanya telah siap, dan Ray pun berangkat menggunakan mobilnya menuju rumah Putih. Sesampainya di sana, Ray pun keluar dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah Putih.
*mengetuk pintu* " Tok tok! Putih? ". Tak ada yang menjawabnya. " Tok tok tok! Putih? Kamu ada di sana? ". Akhirnya di bukakan pintu rumahnya.
" Ada apa? ". Tanya Putih sambil mengusap-usap matanya.
" Kamu.... Kenapa masih menggunakan piyama mu? ". Jawab Ray aneh.
*bangun dari ketidaksadarannya* " Huh? WAH! SAYA LUPA JANJI KITA!! ". Jawab Putih heboh. " Sebentar ya, sebentar hehe. ".
" Okay, saya tunggu kamu di luar ya. ".
Setengah jam pun berlalu, akhirnya Putih pun keluar dari pintu rumahnya. Di saat Gadis itu keluar, Ray hanya menatapnya tanpa berkata-kata. Ray merasa sesuatu yang bergejolak keluar dari dalam dirinya. Detak jantungnya pun berdetak dengan cepat di saat melihatnya. Sungguh jarang Ray dapat merasakan hal seperti ini.
" Ray? Kok diam saja? Ayo kita pergi. ". Ujar Putih.
*tersadar* " Huh? Eh iya iya, ayo kita berangkat. " Jawab Ray.
Akhirnya Ray dan Putih masuk ke dalam mobil. Di saat pertama mereka di dalam mobil di saat itu sungguh canggung, tetapi sekarang bukan rasa canggung yang Ray rasakan. Ray ingin mengajak berbicara Gadis itu tapi Ray tidak tahu mau menanyakan apa kepada Putih. Dan akhir Putih sekali lagi memecahkan suasana....
" AAAAH! ". Teriak Putih kencang.
" Kenapa lagi Putih? ". Jawab Ray santai.
" Tidakkah kau kaget baru saja tadi aku teriak? ". Tanya Putih.
" Aku sudah tahu trik kamu. ". Jawab Ray dengan wajah berbinar-binar.
" Ada apa dengan wajahmu? ". Tanya Putih sambil menyerngitkan alis. " Lupakan. Sekarang kita mau pergi kemana? ".
" Apakah ke taman rekreasi? ".
" Itu dia! Kita ke taman rekreasi saja ya. Hihi. ". Jawab Putih girang.
Tibalah mereka di taman rekreasi. Taman rekreasi ini bernama Go Zone Studios. Taman rekreasi ini seperti sebuah kota kecil tidak terlalu besar dan mempunyai banyak wahana, tempat makan, taman, danau, dan yang lainnya. Setibanya di sana, Ray dan Putih langsung membeli tiket masuknya. Di saat masuk Ray dan Putih di sambut dengan orang-orang yang memakai berbagai macam kostum sambil membawa balon-balon. Di kasihlah kami dengan sebuah balon biru.
Di saat melihat Putih, wajahnya begitu senang, senyumnya lepas, seakan-akan seperti anak kecil yang baru pertama kali datang ke taman rekreasi. Wajahnya yang senang, membuat hati Ray terhibur. Rasa-rasa sakit akan semua mantan kekasihnya yang melukainya sepertinya dapat menghilang dengan senyuman indah dari Gadis itu. Tanpa Ray sadari, Ray tersenyum kepada Putih. Ray akhirnya dapat tersenyum lepas, senyuman Ray tidak lagi di paksa.
" Ray? Kenapa senyum sendiri? ". Tanya Putih heran.
" Uh, uhm tidak ada apa-apa. ". Jawab Ray linglung.
" Ayo kita main wahananya! ". Ujar Putih dengan wajah girang.
" Kita mau main wahana apa? Rollercoaster? ".
" Ide bagus tuh! Ayo kita naik wahananya! ". Jawab Putih dengan semangat.
Ray dan Putih pun memasuki wahana Rollercoaster. Di saat detik-detik wahana itu ingin berjalan, tiba-tiba saja tangan kiri Putih menggenggam tangan kanan Ray dengan erat. Ray pun kaget tiba-tiba saja Putih menggenggam tangannya. Tangannya yang kecil, jemarinya yang mungil dan halus menggenggam tangan Ray dengan erat, hal ini membuat Ray menggenggam tangan Putih dengan erat kembali. Sepertinya apa yang Ray rasakan terhadap Putih adalah rasa sayang terhadapnya. Rasa ini muncul dari dalam dirinya, Ray pun tidak tahu mengapa bisa seperti ini. Kejadian yang waktu itu terjadi dengan cepat bisa membuat Ray memiliki rasa sayang terhadap Putih. Ya, mungkin rasa sayang ini terlalu cepat datang walaupun Ray belum mengetahui banyak tentang Putih, tetapi Ray merasa nyaman di saat dekat dengan Putih.
Wahana Rollercoaster pun selesai, akhirnya mereka berdua pun turun dari wahana tersebut. Tanpa di sadari, mereka berdua pun masih berpegangan tangan. Putih pun yang menyadarinya langsung melepaskan genggamannya. Ray pun hanya terdiam. Keduanya merasa canggung. Di saat Ray melihat ke wajah Putih, wajah Putih pun memerah dan menundukkan kepalanya ke bawah.
" Uhm, mau beli Cotton Candy? ". Tanya Ray.
" Oh, mau mau! Hihi. ".
" Baiklah, saya beli dulu ya. Wait here. ".
" Okay. ".
Di saat Ray kembali ke tempat dimana Putih menunggu, Ray sempat melihat mantan kekasihnya sedang senang-senang dengan pria lain. Hal itu membuat Ray termenung diam, tiba-tiba saja Putih menepuk bahunya. Serentak Ray langsung membalikkan badannya.
" Kamu melihat apa? ". Tanya Putih penasaran.
" Oh, bukan apa-apa. Ini Cotton Candynya. ". Jawab Ray sambil mengalihkan pembicaraan.
" Yang benar? Seperti menyangkut hal pribadi. Oh iya, terima kasih. ".
" Benar, bukan apa-apa. ".
Putih pun merasa aneh dengan pernyataan yang di katakan oleh Ray. Raut wajahnya berubah menjadi muram di saat Putih menanyakan tentang apa yang Ray lihat. Putih pun berusaha untuk menghibur Ray, dan sepertinya itu berhasil. Kini, wajahnya tidak muram, Ray dapat tersenyum kembali. Putih pun senang dapat melihat Ray tersenyum kembali. Tetapi Putih tetap penasaran apa yang dia lihat tadi. Akhirnya Putih menanyakannya...
" Sebenarnya apa yang terjadi tadi? ". Tanya Putih.
" Tadi kapan? ".
" Di saat kau membelikanku Cotton Candy. Apa yang terjadi? ".
" Oh itu.. Aku melihat mantan kekasihku yang sedang senang-senang dengan pria lain. ".
" Oh, gara-gara itukah? Sebenarnya kau jangan memikirkan tentang perempuan itu lagi. Tidak layak. ". Jawab Putih tegas.
" Ya, benar juga katamu. Karena aku telah menemukan orang yang dapat memikat hatiku. ".
*jantung berdegup kencang* " Oh ya? Siapa dia? ". Tanya Putih.
" Kau. ". Jawab Ray singkat.
" Aku? ". Putih pun tersipu malu.
" Iya, kau yang memikat hatiku sekarang. ".
" Tidak sedang bercandakan? Karena aku tidak suka bila bercanda yang di kaitkan dengan perasaan. ".
" Tidak. Aku serius. ".
Ray pun tidak tahu mengapa bisa mengeluarkan pernyataan tersebut, tapi Ray pun tahu bahwa Ray harus menyatakan apa yang di rasakan Ray terhadap Putih. Keduanya pun terdiam, Putih diam tanpa kata, begitu juga dengan Ray. Wajah Putih pun memerah di saat mendengar apa yang di katakan Ray. Putih sepertinya sedang menenangkan dirinya sendiri setelah apa yang Ray ucapkan kepadanya.
" Aku juga. ". Ucap Putih sambil menundukkan kepalanya.
" Maksudmu? " Tanya Ray heran.
" Ah, it's kinda hard to say it. I'm so embarrassed. ".
" Oh, I get the point. Benarkah apa yang kamu katakan tadi? ".
" Iya, benar. ".
Mereka berdua pun tersenyum senang, memandangi wajah satu sama lain. Hal ini tidak dapat di bayangkan oleh Ray. Ray akhirnya mendapatkan perempuan yang dapat menemaninya di waktu suka maupun duka. Yang ada di samping Ray di saat dia mengalami kesulitan. Ray yakin bahwa Putih berbeda dengan kekasih-kekasihnya yang sebelumnya, yang mengincar Ray demi harta yang dia miliki. Memerasnya secara perlahan. Ray berharap semoga Putih berbeda dengan yang lain.
Langit pun semakin gelap, Ray pun mengantar Putih pulang ke rumahnya.
" Terima kasih atas hari ini ya. ". Ujar Ray.
" Sama-sama. We should hang out again sometimes. Okay? Goodbye, hati-hati di jalan ya! Hihi. " Jawab Putih riang.
" Okay. Terima kasih. Selamat tinggal. ".
Ray pun pulang ke rumahnya. Ya, sungguh banyak kenangan yang Ray dapat bersama Putih. Kenangan ini membuat Ray dapat tersenyum lepas. Ray hanya ingin bersama Putih. Ray berharap ini akan bertahan lama sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya. Ray membuka handphonenya dan text message kepada Putih.
Text :
" Selamat malam Putih. Sekali lagi terima kasih atas hari ini. Sungguh menyenangkan. I hope we can do it again. Sleep well, Putih. Goodnight :-) ".
Friday, October 26, 2012
Saturday, August 18, 2012
I'm Yours ( Gadis Itu )
Sang surya yang memancarkan cahayanya, cukup panas di hari itu. Ray terduduk diam di bangku. Tatapan Ray tertuju kepada langit biru. Hari yang membosankan bagi Ray. Dia tidak tahu bagaimana menghabiskan waktunya. Dia pun beranjak dari tempat duduk dan berjalan. Pandangannya menerawang saat dia melihat ke arah langit. Pikirannya pun kosong, tersesat dalam kehampaan yang dalam. Tetap dia berjalan dengan pandangan menerawang ke langit. Tanpa di sadarinya, seorang perempuan menabraknya dari depan.
" Aw.... " Ucap Gadis itu sambil menunduk dan memegang kepalanya. " Ma.. maaf ya.. Saya tidak melihat kamu tadi hehe ".
" Oh.. Tidak apa-apa. Maaf, saya juga tidak melihat kamu berjalan tadi.. ". Ucap Ray dengan matanya menatap wajah gadis itu.
Tak lama kemudian kedua mata mereka pun bertemu kepada arah yang sama. Ray pun merasa canggung, dan begitu juga gadis itu. Gadis itu secara cepat membuang pandangannya.
" *canggung* uhm, sepertinya saya akan pergi dulu.. " Ucap Gadis itu yang bergegas pergi.
" ........... "
Ray hanya heran dan menatap punggung Gadis itu yang makin lama semakin jauh. " Gadis itu....... "
Keesokkan harinya Ray pergi sambil membawa kameranya dari rumah menggunakan mobil. Ray berharap dia bisa menemukan objek yang indah untuk bahan potretannya. Dia pun berhenti di suatu tempat yang bernama ' View Point '. View Point adalah salah satu tempat yang di kenal indah pemandangannya, banyak wisatawan yang datang ke tempat ini. Di saat Ray sedang memotret-motret pemandangan menggunakan kameranya, Ray menangkap wajah seorang perempuan yang di kenal oleh dia. Ya, ternyata perempuan itu adalah yang menabrak Ray di saat berjalan kemarin. Ray pun memandangnya dari kejauhan. Gadis itu sedang asik melihat-lihat apa yang ada di View Point ini.
Si Gadis menoleh ke arah Ray, dan Gadis itu pun tahu bahwa Ray adalah orang yang dia tabrak kemarin. Ray membuang wajahnya ke lain arah dan berpura-pura memotret pemandangan. Di saat Ray menoleh kembali ke arah dimana Gadis itu berada, Gadis itu sudah tidak ada disana.
" Mungkin Gadis itu sudah pergi... ". Dalam pikiran Ray. Ray pun terkejut di saat ada yang menyentuh bahunya dari belakang.
" Hai! Apakah kamu mencari-cari saya? Hahaha ". Ucap Gadis itu sambil tertawa.
" Oh hai.. Tidak juga haha ". Jawab Ray dengan setengah terkejut.
" Oh iya, soal yang kemarin saya minta maaf ya, saya jalan sambil menundukkan kepala. Tidak melihatmu. "
" Tidak apa-apa, bukan hal yang besar ". Jawab Ray dengan nada lembut. " Apa yang membawamu kemari? ".
" Hanya ingin melihat-lihat, sedangkan kamu? ". Jawab si Gadis.
" Mencari objek untuk di potret. Sepertinya tempat ini bagus untuk di potret. "
" Mencari objek? Gimana kalau saya menjadi objek potretnya? Saya bisa menjadi modelnya. Sepertinya... ". Ucap Gadis itu sambil tersenyum.
" Apa? Ba.. Baiklah.. ".
Setelah memotret Gadis itu dengan pemandangan yang ada di View Point, Ray pun duduk di bangku dengan pandangan menerawang. Si Gadis datang dengan membawakan minum untuk Ray.
" Ini minumannya, di minum.. ". Kata si Gadis.
" Buat saya? Te.. Terima kasih.. ". Jawab Ray sambil mengambil minuman yang ada di tangan si Gadis.
" Oh iya, nama kamu siapa? Saya belum tau nama kamu siapa.. ". Tanya si Gadis.
" Nama saya Ray Manewa. ". Jawab Ray singkat.
" Kalau saya, Putih Azizah. Tapi bisa di panggil Putih, atau Azizah. Terserah kamu mau panggil saya yang mana. Kebanyakan panggil saya Putih hehe. ". Jawab Putih sambil tertawa kecil. " Oh iya, saya pulang sama kamu ya? Ya walaupun baru kenal, tapi kamu sepertinya orang baik. Gara-gara saya jadi model buat kamu jadi saya di tinggal pulang sama teman-teman saya hehe. Jadi, harus anterin saya ya! ".
" Nganter kamu pulang? ". Jawab Ray dengan wajah terkejut. " Ta.. Tapi kan kamu sendiri yang mau jadi modelnya..... ".
" Hehehe, iya sih. Ya tapi kan... Ah tidak mau tahu. ". Kata Putih sambil meniupkan poninya.
" Hm, apa boleh buat... Ya sudah mari kita pulang. "
" Yeay! ". Jawab Putih kegirangan.
Ray mengantar Putih pulang. Di saat Putih di mobil bersama Ray suasana menjadi canggung. Ray pun hanya terdiam, begitu juga Putih. Tiba-tiba Putih berteriak untuk memecah kan suasana...
" AAAAH! ". Teriak Putih.
" Ada apa Put?! ". Jawab Ray terkejut.
" Oh tidak ada apa-apa kok haha ". Ucap Putih sambil tertawa.
" Aduh, Gadis ini..... ". Gunjing Ray.
" Boleh pinjam Handphone kamu? Sepertinya Handphone saya tertinggal di mobil teman saya. Barangkali saja teman saya ada yang mengangkat panggilan saya. "
" Ini silahkan... "
Ray tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat ini. Membawa seorang gadis di mobil, dan mengantarkannya pulang. Gadis ini terlihat lugu, namun dia selalu ceria, seakan-akan tidak ada yang bisa membuatnya sedih. Ray tidak pernah melihat gadis semacam ini. Kebanyakan gadis yang Ray kencani semuanya tertarik karena hartanya, hal ini membuat Ray trauma menjalin hubungan dengan perempuan. Namun, Ia tidak melihat sifat itu di dalam diri Gadis ini. Ray hanya ingin lebih tahu tentang gadis ini.
" Ya, kita sudah sampai. ". Ujar Ray kepada Putih.
" Apa? Sudah sampai? Terima kasih ya orang asing haha. Eh maksud saya Ray hehe. ". Jawab Putih sambil tertawa riang.
" Apa kamu bilang? Orang asing? Dasar Gadis lugu. ". Gerutu Ray
" Hehe, yaudah. Terima kasih ya! Selamat sore! ". Jawab Putih di barengi senyumnya.
Semalaman, Ray melihat-lihat hasil foto yang ada di kameranya. Tak tahu kenapa, Ray terasa terhibur dengan foto-foto itu. Kulitnya yang putih, matanya, rambut panjangnya yang lembut, bulu matanya yang lentik, dan yang lainnya membuat Ray tersenyum di saat melihat foto-foto itu. Sesaat Ray berusaha untuk merenungkan apa yang dia rasakan. Sungguh jarang ia mendapatkan perasaan seperti ini. Mungkin terlalu awal untuk memastikan apa yang terjadi terhadap dirinya. Tetapi Ray sungguh ingin mengetahui lebih tentang Gadis ini.
Malam itu berlalu dengan penuh pertanyaan dan penasaran. Rasa penasaran Ray ini, membuat Ray tidak bisa tidur. Dan rasa yang ia rasakan membuatnya ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya. Terangnya bulan menemaninya di malam hari yang sunyi. Gemerlap bintang-bintang di langit, menghiburnya diantara rasa penuh pertanyaan dan penasaran itu.
" Semoga apa yang saya rasakan sekarang tidak membuat buruk di masa yang akan datang... " Ujar Ray.
" Aw.... " Ucap Gadis itu sambil menunduk dan memegang kepalanya. " Ma.. maaf ya.. Saya tidak melihat kamu tadi hehe ".
" Oh.. Tidak apa-apa. Maaf, saya juga tidak melihat kamu berjalan tadi.. ". Ucap Ray dengan matanya menatap wajah gadis itu.
Tak lama kemudian kedua mata mereka pun bertemu kepada arah yang sama. Ray pun merasa canggung, dan begitu juga gadis itu. Gadis itu secara cepat membuang pandangannya.
" *canggung* uhm, sepertinya saya akan pergi dulu.. " Ucap Gadis itu yang bergegas pergi.
" ........... "
Ray hanya heran dan menatap punggung Gadis itu yang makin lama semakin jauh. " Gadis itu....... "
Keesokkan harinya Ray pergi sambil membawa kameranya dari rumah menggunakan mobil. Ray berharap dia bisa menemukan objek yang indah untuk bahan potretannya. Dia pun berhenti di suatu tempat yang bernama ' View Point '. View Point adalah salah satu tempat yang di kenal indah pemandangannya, banyak wisatawan yang datang ke tempat ini. Di saat Ray sedang memotret-motret pemandangan menggunakan kameranya, Ray menangkap wajah seorang perempuan yang di kenal oleh dia. Ya, ternyata perempuan itu adalah yang menabrak Ray di saat berjalan kemarin. Ray pun memandangnya dari kejauhan. Gadis itu sedang asik melihat-lihat apa yang ada di View Point ini.
Si Gadis menoleh ke arah Ray, dan Gadis itu pun tahu bahwa Ray adalah orang yang dia tabrak kemarin. Ray membuang wajahnya ke lain arah dan berpura-pura memotret pemandangan. Di saat Ray menoleh kembali ke arah dimana Gadis itu berada, Gadis itu sudah tidak ada disana.
" Mungkin Gadis itu sudah pergi... ". Dalam pikiran Ray. Ray pun terkejut di saat ada yang menyentuh bahunya dari belakang.
" Hai! Apakah kamu mencari-cari saya? Hahaha ". Ucap Gadis itu sambil tertawa.
" Oh hai.. Tidak juga haha ". Jawab Ray dengan setengah terkejut.
" Oh iya, soal yang kemarin saya minta maaf ya, saya jalan sambil menundukkan kepala. Tidak melihatmu. "
" Tidak apa-apa, bukan hal yang besar ". Jawab Ray dengan nada lembut. " Apa yang membawamu kemari? ".
" Hanya ingin melihat-lihat, sedangkan kamu? ". Jawab si Gadis.
" Mencari objek untuk di potret. Sepertinya tempat ini bagus untuk di potret. "
" Mencari objek? Gimana kalau saya menjadi objek potretnya? Saya bisa menjadi modelnya. Sepertinya... ". Ucap Gadis itu sambil tersenyum.
" Apa? Ba.. Baiklah.. ".
Setelah memotret Gadis itu dengan pemandangan yang ada di View Point, Ray pun duduk di bangku dengan pandangan menerawang. Si Gadis datang dengan membawakan minum untuk Ray.
" Ini minumannya, di minum.. ". Kata si Gadis.
" Buat saya? Te.. Terima kasih.. ". Jawab Ray sambil mengambil minuman yang ada di tangan si Gadis.
" Oh iya, nama kamu siapa? Saya belum tau nama kamu siapa.. ". Tanya si Gadis.
" Nama saya Ray Manewa. ". Jawab Ray singkat.
" Kalau saya, Putih Azizah. Tapi bisa di panggil Putih, atau Azizah. Terserah kamu mau panggil saya yang mana. Kebanyakan panggil saya Putih hehe. ". Jawab Putih sambil tertawa kecil. " Oh iya, saya pulang sama kamu ya? Ya walaupun baru kenal, tapi kamu sepertinya orang baik. Gara-gara saya jadi model buat kamu jadi saya di tinggal pulang sama teman-teman saya hehe. Jadi, harus anterin saya ya! ".
" Nganter kamu pulang? ". Jawab Ray dengan wajah terkejut. " Ta.. Tapi kan kamu sendiri yang mau jadi modelnya..... ".
" Hehehe, iya sih. Ya tapi kan... Ah tidak mau tahu. ". Kata Putih sambil meniupkan poninya.
" Hm, apa boleh buat... Ya sudah mari kita pulang. "
" Yeay! ". Jawab Putih kegirangan.
Ray mengantar Putih pulang. Di saat Putih di mobil bersama Ray suasana menjadi canggung. Ray pun hanya terdiam, begitu juga Putih. Tiba-tiba Putih berteriak untuk memecah kan suasana...
" AAAAH! ". Teriak Putih.
" Ada apa Put?! ". Jawab Ray terkejut.
" Oh tidak ada apa-apa kok haha ". Ucap Putih sambil tertawa.
" Aduh, Gadis ini..... ". Gunjing Ray.
" Boleh pinjam Handphone kamu? Sepertinya Handphone saya tertinggal di mobil teman saya. Barangkali saja teman saya ada yang mengangkat panggilan saya. "
" Ini silahkan... "
Ray tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat ini. Membawa seorang gadis di mobil, dan mengantarkannya pulang. Gadis ini terlihat lugu, namun dia selalu ceria, seakan-akan tidak ada yang bisa membuatnya sedih. Ray tidak pernah melihat gadis semacam ini. Kebanyakan gadis yang Ray kencani semuanya tertarik karena hartanya, hal ini membuat Ray trauma menjalin hubungan dengan perempuan. Namun, Ia tidak melihat sifat itu di dalam diri Gadis ini. Ray hanya ingin lebih tahu tentang gadis ini.
" Ya, kita sudah sampai. ". Ujar Ray kepada Putih.
" Apa? Sudah sampai? Terima kasih ya orang asing haha. Eh maksud saya Ray hehe. ". Jawab Putih sambil tertawa riang.
" Apa kamu bilang? Orang asing? Dasar Gadis lugu. ". Gerutu Ray
" Hehe, yaudah. Terima kasih ya! Selamat sore! ". Jawab Putih di barengi senyumnya.
Semalaman, Ray melihat-lihat hasil foto yang ada di kameranya. Tak tahu kenapa, Ray terasa terhibur dengan foto-foto itu. Kulitnya yang putih, matanya, rambut panjangnya yang lembut, bulu matanya yang lentik, dan yang lainnya membuat Ray tersenyum di saat melihat foto-foto itu. Sesaat Ray berusaha untuk merenungkan apa yang dia rasakan. Sungguh jarang ia mendapatkan perasaan seperti ini. Mungkin terlalu awal untuk memastikan apa yang terjadi terhadap dirinya. Tetapi Ray sungguh ingin mengetahui lebih tentang Gadis ini.
Malam itu berlalu dengan penuh pertanyaan dan penasaran. Rasa penasaran Ray ini, membuat Ray tidak bisa tidur. Dan rasa yang ia rasakan membuatnya ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya. Terangnya bulan menemaninya di malam hari yang sunyi. Gemerlap bintang-bintang di langit, menghiburnya diantara rasa penuh pertanyaan dan penasaran itu.
" Semoga apa yang saya rasakan sekarang tidak membuat buruk di masa yang akan datang... " Ujar Ray.
Tuesday, May 8, 2012
Sunday, April 29, 2012
Night Ride (?)
Yup Night Ride. Kamu tahu kan Night Ride artinya? Sebenarnya ini cuma pengalaman Saya, Ansell, Vigor, Hasan, dan Marlovin. Ceritanya tuh kami semua pergi gowes malam-malam jam 12 lebih, ke tempat yang rada seram. Sebenarnya bukan malam, tapi dini hari. Kami Night Ride sudah 2 kali. Yang kedua tidak terjadi apa-apa. Yang serem adalah yang pertama di saat nginep di rumah Vigor. Yang aslinya sih hari itu ada pertandingan Barca melawan Real Madrid jam 12 malam. Nah, kami nyari nobar di sekitar. Kami ngeliat dari jauhan itu kayak ada sinar sinar layar, akhirnya kami pun keluar naik sepeda, tetapi Marlovin tidak ikut (tidur duluan).
Sebenarnya dari pertama kami keluar itu ada perasaan tidak enak yang kami rasakan kecuali Vigor. Belum keluar dari perumahan, kami mencium bau bangke di dekat pohon lapangan basket itu. Kami pun langsung buru-buru ngayuh sepeda kami dengan cepat. Sesampai depan gerbang perumahan, satpam pun membuka gerbangnya. Di luar sana sangat sunyi, dan gelap gulita. Kami semua tidak dapat melihat apa-apa. Jadi kami menggunakan aplikasi light ponsel Vigor untuk menerangi jalan.
Kami semua merasa aneh, gugup, dan ketakutan ketika keluar dari perumahan. Tetapi ada satu rumah kosong, belum jadi semua menarik perhatian kami di malam gelap itu. Tetapi, kami tidak mengayuhkan sepeda mengarah kesana. Kami pun keluar menuju jalan umum, dan kami mencari cahaya yang kami lihat dari perumahan di sekeliling jalan. Dan ternyata......... Hanyalah pekerja las. Damn
Kami semua kecewa, akhirnya kami memutuskan untuk keliling di sekitar. Hari itu bernuansa aneh, tidak sama seperti biasanya. Kami pun berlanjut untuk mengayuh sepeda kami, tujuan kami yaitu adalah ke rumah Hasan di Griya Sunyaragi Permai. Katanya ada TV di Pos Satpamnya. Ya sudah, kami pun pergi kesana. Yak, hampir sesampai di sana, kami harus melewati jalan yang lebar, gelap, dingin, dan menyeramkan. Di kanan dan di kiri pohon semua. Ya tapi kami santai mengayuh sepedanya. Setelah itu ada pos yang kosong, gelap, dan kayaknya menyeramkan.
Kata Hasan, di situ pos yang gelap itu ada satpam yang gantung diri di situ, makanya pos itu tidak di pakai lagi. Saya pun merinding mendengarnya. Setelah sampai di Pos Satpam yang katanya ada TVnya, ternyata TVnya tidak ada kata satpamnya. Kami pun bingung harus kemana lagi, karena tidak ada lagi tujuan mau kemana, akhirnya kami pun pulang kembali ke perumahan Vigor melalui jalan yang sama.
Di saat melewati jalan yang lebar, gelap, dingin, dan menyeramkan yang banyak pohonnya itu, Saya mendengar suara jeritan seorang wanita di samping bawah jalan ini. Di samping bawahnya jalan ini kata Hasan hanya ada sungai sama sawah. Saya pun terkejut dan diam saat mendengarnya. Bulu kuduk saya pun langsung berdiri, saya bertanya kepada Vigor " Eh... Tadi ada suara jeritan wanita eh... " dengan nada rendah. " Yang bener Gi? Gue ga denger apa-apa " Vigor terkejut. Setelah itu tanpa habis mikir saya langsung ngayuh sepeda secepat mungkin. Dan di ikuti oleh Vigor.
Setelah melewati jalan itu, kami semua ke sebuah warung dan membeli minuman. Semua lagi ngumpul, terus saya nanya ke Ansell " Eh Sell, tadi denger engga ada suara jeritan wanita? ". " Eh iya iya Gi, kita denger yakin suaranya. " Jawab Ansell heboh " Kayak gini bukan ' aaaaaa! ' ya kan? ". " Eh! Tapi kok kita ga denger apa-apa sih? " Vigor nyeletuk. " Ah elu sih anak alim, di lindungi sama Allah kali, jadi ga kedengeran. " Jawab Ansell. Setelah beberapa perbincangan akhirnya kami semua memutuskan balik lagi ke perumahan Vigor.
Kami pun dengan santai pulang ke perumahan Vigor. Untungnya tidak terjadi apa-apa. Ga ada yang ngikutin (?) Sampai depan gerbang perumahan di ketawain sama satpamnya gara-gara yang dikira nobar tadi sesungguhnya adalah pekerja las. Sungguh. Mengecewakan. Tetapi sebelum kami melakukan Night Ride, kami semua udah merasakan hal-hal aneh dan suara-suara aneh yang ada di rumah Vigor sebelum berangkat.
Antara jam 11 an, Saya, Ansell, dan Hasan mengalami bulu kuduknya berdiri. Setelah itu, kami sedang berbincang-bincang di kamar Vigor, tiba-tiba dari luar ada suara " ngiiiiiiit...! " suaranya jelas banget. Benar-benar jelas. Setelah ada suara itu, semua terdiam dan tidak berkata apa-apa. Vigor pun menengok keluar dari jendela di kamarnya. Dan kata dia tidak ada apa-apa di luar. ENG ING ENG. Dag dig dug jantung saya. Tapi kami semua tidak mempermasalahkan itu semua.
Yak, ini pengalaman yang tidak terlupakan.............................
Sebenarnya dari pertama kami keluar itu ada perasaan tidak enak yang kami rasakan kecuali Vigor. Belum keluar dari perumahan, kami mencium bau bangke di dekat pohon lapangan basket itu. Kami pun langsung buru-buru ngayuh sepeda kami dengan cepat. Sesampai depan gerbang perumahan, satpam pun membuka gerbangnya. Di luar sana sangat sunyi, dan gelap gulita. Kami semua tidak dapat melihat apa-apa. Jadi kami menggunakan aplikasi light ponsel Vigor untuk menerangi jalan.
Kami semua merasa aneh, gugup, dan ketakutan ketika keluar dari perumahan. Tetapi ada satu rumah kosong, belum jadi semua menarik perhatian kami di malam gelap itu. Tetapi, kami tidak mengayuhkan sepeda mengarah kesana. Kami pun keluar menuju jalan umum, dan kami mencari cahaya yang kami lihat dari perumahan di sekeliling jalan. Dan ternyata......... Hanyalah pekerja las. Damn
Kami semua kecewa, akhirnya kami memutuskan untuk keliling di sekitar. Hari itu bernuansa aneh, tidak sama seperti biasanya. Kami pun berlanjut untuk mengayuh sepeda kami, tujuan kami yaitu adalah ke rumah Hasan di Griya Sunyaragi Permai. Katanya ada TV di Pos Satpamnya. Ya sudah, kami pun pergi kesana. Yak, hampir sesampai di sana, kami harus melewati jalan yang lebar, gelap, dingin, dan menyeramkan. Di kanan dan di kiri pohon semua. Ya tapi kami santai mengayuh sepedanya. Setelah itu ada pos yang kosong, gelap, dan kayaknya menyeramkan.
Kata Hasan, di situ pos yang gelap itu ada satpam yang gantung diri di situ, makanya pos itu tidak di pakai lagi. Saya pun merinding mendengarnya. Setelah sampai di Pos Satpam yang katanya ada TVnya, ternyata TVnya tidak ada kata satpamnya. Kami pun bingung harus kemana lagi, karena tidak ada lagi tujuan mau kemana, akhirnya kami pun pulang kembali ke perumahan Vigor melalui jalan yang sama.
Di saat melewati jalan yang lebar, gelap, dingin, dan menyeramkan yang banyak pohonnya itu, Saya mendengar suara jeritan seorang wanita di samping bawah jalan ini. Di samping bawahnya jalan ini kata Hasan hanya ada sungai sama sawah. Saya pun terkejut dan diam saat mendengarnya. Bulu kuduk saya pun langsung berdiri, saya bertanya kepada Vigor " Eh... Tadi ada suara jeritan wanita eh... " dengan nada rendah. " Yang bener Gi? Gue ga denger apa-apa " Vigor terkejut. Setelah itu tanpa habis mikir saya langsung ngayuh sepeda secepat mungkin. Dan di ikuti oleh Vigor.
Setelah melewati jalan itu, kami semua ke sebuah warung dan membeli minuman. Semua lagi ngumpul, terus saya nanya ke Ansell " Eh Sell, tadi denger engga ada suara jeritan wanita? ". " Eh iya iya Gi, kita denger yakin suaranya. " Jawab Ansell heboh " Kayak gini bukan ' aaaaaa! ' ya kan? ". " Eh! Tapi kok kita ga denger apa-apa sih? " Vigor nyeletuk. " Ah elu sih anak alim, di lindungi sama Allah kali, jadi ga kedengeran. " Jawab Ansell. Setelah beberapa perbincangan akhirnya kami semua memutuskan balik lagi ke perumahan Vigor.
Kami pun dengan santai pulang ke perumahan Vigor. Untungnya tidak terjadi apa-apa. Ga ada yang ngikutin (?) Sampai depan gerbang perumahan di ketawain sama satpamnya gara-gara yang dikira nobar tadi sesungguhnya adalah pekerja las. Sungguh. Mengecewakan. Tetapi sebelum kami melakukan Night Ride, kami semua udah merasakan hal-hal aneh dan suara-suara aneh yang ada di rumah Vigor sebelum berangkat.
Antara jam 11 an, Saya, Ansell, dan Hasan mengalami bulu kuduknya berdiri. Setelah itu, kami sedang berbincang-bincang di kamar Vigor, tiba-tiba dari luar ada suara " ngiiiiiiit...! " suaranya jelas banget. Benar-benar jelas. Setelah ada suara itu, semua terdiam dan tidak berkata apa-apa. Vigor pun menengok keluar dari jendela di kamarnya. Dan kata dia tidak ada apa-apa di luar. ENG ING ENG. Dag dig dug jantung saya. Tapi kami semua tidak mempermasalahkan itu semua.
Yak, ini pengalaman yang tidak terlupakan.............................
Thursday, February 2, 2012
Knight and day i'm thinking about you
I'm thinking, is this real or just another heartbreak
The moments we've been through is real
Even though
I'm afraid that you're gonna leave me alone
This feeling in my heart
Keeps on growing and growing
But, you act like you don't care
Me here, write this
I just wanted to tell you
My love for you is pure
I'm not making this up
But, I do not think it would be unthinkable to you
That I hate the feeling you're ignoring me
I think it wouldn't be easy to me
Maybe, i'm not worthy for you
If it so, then it would be better for me to tell you
So long, and Goodbye
Is This Real
By : Reggi Raenaldi
By : Reggi Raenaldi
Subscribe to:
Posts (Atom)